Halaman

Minggu, 20 Juni 2010

Pendakian Gunung Semeru




mahameru
Indahnya Mahameru


Kamis, 17 Juni 2010 akhirnya sebuah keinginan dilaksanakan yaitu ke puncak Gunung SemeruMAHAMERU”  yang ada di Jawa Timur. Setelah sekian lama akhirnya Aq bersama ketiga temen (Nugroho, Priyo dan Emma) berangkat juga menuju ke Semeru. Sebelum jam 21.00 kami sudah berada di stasiun Poncol Semarang karena sesuai jadwal kereta  ekonomi “Matarmaja” dari Jakarta akan singgah di stasiun ini, meskipun akhirnya terlambat beberapa saat (sudah biasa….).
Seperti yang sudah kita ketahui suasana dalam kereta ini wuiiihhhhh penuh sesak oleh penumpang, pasti anda sudah tahu apa yang terjadi, kami hanya bisa berdiri, tapi dari pada berdesak-desakan dalam gerbong yang baunya sangat menyengat akhirnya kami memutuskan duduk di luar gerbong alias di pintu sambungan gerbong paling belakang. (Ada pengalaman pertama juga saya tayamum dan sholat subuh di dalam kereta).
Setelah menikmati angin malam di atas kereta akhirnya sekitar jam 8 pagi hari Jumat, 18 Juni 2010 kami tiba di stasiun Kota Baru Malang. Perjalanan kami lanjutkan ke pasar tumpang dengan naik angkot. Sebelum  jam setengah 11 siang kami sudah di pasar Tumpang, kami lalu menuju masjid untuk mandi dan sholat jumat. Setelah itu kami makan dan cari informasi untuk ke Ranu Pane. Akhirnya kami ketemu temen dari Sidoarjo mas Joko dan Icha (adiknya) lalu kami sepakat sewa truk untuk menuju Ranupane.
Sensasi di atas truk sangat luar biasa, jalur sempit yang berkelok-kelok membuat kami tambah semangat. Akhirnya kami sampai di Pos Pendakian Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) yang ada di Ranu Pane. Karena kami datang sudah lebih jam 5 kami dilarang menuju puncak, tapi dengan sedikit nego (karena kami jauh dan mesti pulang tepat waktu) akhirnya kami boleh dech…. Karena tadi blm sempat,  kami segera sholat asar sebelum akhirnya kami meninggalkan pos Ranu Pane.
Perjalanan dari Ranu Pane ke Ranu Kumbolo lumayan berat,  baru tengah malam kami nyampai di danau Ranu Kumbolo. Karena badan sudah capek langsung kami buka tenda dan istirahat. Pagi hari dalam dinginnya udara kami bangun untuk menikmati indahnya danau ranu kumbolo. Setelah sholat subuh kami ngopi dulu, lumayan untuk penghangat tubuh sambil menunggu datangnya sinar mentari.
Wow fantastic, sinar mentari yang hangat menerpa dua bukit di ujung danau, semua yang ada di situ takjub memandang keindahan ala mini tanpa sedikitpun merasa bosan. Di pinggir danau sambil menikmati indahnya danau dari dalam tenda kami menikmati kopi dan mie instan (makanan pokok kami saat mendaki gunung). Ada diantara pendaki yang menyempatkan memancing di pinggir danau bersama beberapa warga yang sengaja datang dari kampung di bawah sana.
Sebelum matahari semakin tinggi meninggalkan tempat terbitnya kami harus segera melanjutkan perjalanan kami ke pos selanjutnya yaitu di pos Kalimati. Panorama di sepanjang jalur ini sungguh luar biasa, tepat di sebelah danau Ranu Kumbolo kami harus melewati tingginya ‘Tanjakan Cinta’ hemmmm nama yang indah seindah pemandangannya. Meskipun ada mitos kalau kita berjalan sepanjang  tanjakan ini tanpa menoleh ke belakang maka akan dekat jodohnya, tapi mitos itu tidak berlaku bagi saya dan juga teman2 saya. Tanpa peduli mitos kami sempatkan menoleh kebelakang atau sejenak menikmati indahnya danau dari tanjakan cinta. Sekali lagi kami hanya bisa berdecak kagum menyaksikan ciptaan Allah yang indah.
 Lepas dari terjalnya tanjakan cinta kami bisa sedikit bernafas karena track menurun sampai kami di ‘Oro-oro ombo’, hamparan dataran yang di tumbuhi berbagai rumput dan beraneka bunga ada di depan kami. Kami seperti tenggelam di antara tingginya tumbuhan di sepanjang trek yang kami lalui. Sampai di ujung oro-oro ombo kami tiba di cemoro kandang yang merupakan hutan pinus.
Ciplukan

Di sini kami sempatkan memetik buah ciplukan (gak tahu kalau anda menyebutnya lain).  Akhirnya kami tiba juga di pos Kalimati sekitar pukul 13.00 WIB, Jalur dari Ranukumbolo sampai kalimati cenderung landai.  Sampai di kalimat kami mendirikan tenda (untung ada tempat kosong dalam pos jadi berkurang tiupan angin).  Karena persedian air kami yang tinggal sedikit saya bersama seorang temen menuju sumber air mani (ternyata lumayan jauh, capek juga kami harus berjalan) tahu begini kami bawa air lebih banyak dari danau Ranu Kumbolo.
Kalimati

Pos kalimati ini adalah batas ijin dari TNBTS, itu artinya resiko setelah pos ini menjadi tanggungjawab para pendaki sendiri-sendiri. Tapi kami sudah berniat jauh sebelum berangkat untuk sampai di puncak mahameru. Lalu kami istrahat menunggu malam untuk melanjutkan jalan ke puncak semeru. Tepat jam 02.00 dini hari kami bangun, dinginnya udara malam ini yang menusuk tulang seakan membuat kami enggan untuk keluar dari tenda. Tapi kami punya tujuan yang menguatkan kami untuk segera beranjak menuju puncak tertinggi di pulau jawa.
Beberapa saat kami meninggalkan pos kalimati, jalur terjal menjadi tantangan bagi kami. Sebentar berjalan nafas sudah ngos-ngosan, sebentar kami berhenti lalu kami terus melangkahkan kaki dalam dinginnya udara malam ini. Hampir tiga jam kami berjalan akhirnya kami sampai di Arcopodo dan setelah itu sampailah kami di batas vegetasi. Tempat ini dinamakan Cemoro Tunggal karena dulu ada satu pohon yang digunakan pendaki sebagai penanda untuk turun dari Puncak Semeru, tapi kini pohon cemara itu sudah tidak ada.
Beratnya Trek Terakhir
Kini di depan kami terlihat gudukan pasir yang cukup tinggi, dari sinilah awal jalur terberat menuju puncak. Jalur yang terlihat tidak begitu jauh namun ketika kami lewati memerlukan waktu lebih dari 3 jam. Tiap kami melangkahkan kaki satu langkah di atas jalur pasir maka akan mundur ½ nya, maka sama saja kami menempuh 2x jarak yang sesungguhnya. Belum sampai setengah jalur puncak ini matahari sudah mulai terbit, diantara kami hampir saja memutuskan berhenti dan kembali turun, tapi saya tetap nekat untuk naik. Memang ada larangan di puncak melebihi jam 8.00 karena gas beracun sudah mulai keluar pada jam tersebut. Saya minta kamera yang di bawa teman saya lalu saya berusaha berjalan cepat untuk sampai di puncak.
Akhirnya beberapa menit dari jam delapan saya sampai di puncak di ikuti rekan-rekan yang akhirnya sampai juga. Kami berteriak penuh haru dan bahagia karena hari ini kami berada di tanah paling tinggi di pulau Jawa.
Setelah sejenak beristrahat dan berfoto untuk mengabadikan momen ini, kami segera bergegas turun karena jam sudah menjelang 08.30 WIB. Perjalanan turun lebih cepat dari pada naik, kami berlari, berlomba untuk segera sampai d tenda yang kami tinggalkan.
Sebelum tengah hari kami sampai di kalimati dan segera membongkar tenda dan bergegas meninggalkan Kalimati.  Perjalanan ami lanjutkan sampai di Ranu Kumbolo sekitar jam 15.00, kami istirahat sambil menikmati segarnya air danau (meskipun terik matahari, air tetap saja dingin). Tidak bisa lama-lama kami di danau segera kami melanjutkan perjalanan menuju Ranu Pane, hinggi kami sampai di pos saat isya’. Kami membuka tenda untuk istirahat.
Bebas dari sesaknya Kereta

Pagi hari sesuai janji sopir truk penjemput kami datang. Kami kembali ke pasar Tumpang dengan truk yang sama saat kami berangkat. Untuk mengejar  waktu kami lanjutkan perjalanan ke Terminal Arjosari Malang untuk kemudian menuju Stasiun Kota Baru. Setelah sampai stasiun dan tahu jadwal kereta ke semarang yaitu jam 15.00 kami istirahat dan mencari makan di sekitar stasiun. Akhirnya kami kembali ke Semarang dengan kereta Martamarja, tengah malam kami sampai di Stasiun Poncol, semarang.
Begitulah cerita perjalanan kami menuju puncak tertinggi di pulau jawa atau sering juga disebut ‘Puncak Para Dewa’.


Puncakkkk……
  
Tanjakan Cinta

Pagi di Ranukumbolo